About

Tampilkan postingan dengan label CatatanMengajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CatatanMengajar. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Oktober 2017

Model Pembelajaran Attention, Relevance, Confidence and Satisfaction (ARCS) untuk Sistem Belajar yang Menyenangkan

Pendidikan tingkat sekolah dasar bukanlah tingkat pendidikan yang patut dianggap sepele. Hal ini karena pada tingkat sekolah dasar anak-anak baru saja melewati masa golden age dimana fungsi otak anak-anak sedang bekerja secara maksimal untuk menyerap dan merekam segala sesuatu di lingkungannya. Untuk itu, di masa ini anak harus dididik sebaik-baiknya agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan, berilmu, mandiri, peka terhadap sosial dan juga bertanggung jawab seperti yang tertuang dalam peraturan pemerintah Nomor 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Berbagai upaya pun dilakukan pemerintah untuk mewujudkan cita-cita mulia ini, salah satunya adalah dengan mewajibkan kurikulum 2013 sebagai acuan dalam pendidikan dengan tujuan agar pendidikan tingkat sekolah dasar disesuaikan dengan minat siswa dan jauh dari unsur pemaksaan.
Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak masalah-masalah yang muncul dalam pendidikan sekolah dasar. Salah satunya adalah masih adanya budaya tidak naik kelas bagi siswa kelas 1 sampai kelas 3 di beberapa sekolah di Indonesia pada musim naik kelas tahun lalu (Beritasatu.com,11 Oktober 2016). Fatalnya, data Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan bahwa 422.082 siswa SD dinyatakan tidak naik kelas. Hal ini sungguh sangat disayangkan mengingat pendidikan sekolah dasar adalah masa awal pembangunan perspektif siswa tentang sekolah. Dalam artian, masa ini adalah masa dimana siswa diperkenalkan dengan dunia sekolah untuk pertama kalinya. Untuk itu, kesan yang ditimbulkan haruslah membawa dampak yang baik bagi siswa ke depannya agar mereka merasa bersemangat untuk terus melanjutkan sekolah karena kecintaan mereka akan dunia pendidikan. Peristiwa tinggal kelas akan meninggalkan kesan yang buruk bagi siswa, dimana siswa akan berfikir bahwa sekolah merupakan sebuah pemaksaan kehendak belajar dan sama sekali tidak menyenangkan. Tentu saja, hal ini akan membuat siswa kehilangan motivasi untuk sekolah. Untuk itu, para pendidik harus mampu menghindari hal buruk tersebut dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai untuk dunia anak-anak sekolah dasar.
Salah satu model pembelajaran yang mengedepankan peningkatan motivasi siswa adalah pembelajaran dengan model ARCS (singkatan dari Attention, Relevance, Confidence, and Satisfaction) yang dipopulerkan oleh John Keller tahun 1987. Model pembelajaran ini dinilai cukup ampuh karena memuat pendekatan psikologis yang bertujuan meningkat motivasi. Model ini juga selaras dengan kurilkulum 2013 yang mengutamakan keaktifan siswa dalam belajar. Dalam model pembelajaran ini, perhatian siswa ditarik dengan hal-hal yang disukainya (attention), pelajaran dikaitkan dengan hal-hal yang berhubungan langsung dengan kehidupan siswa (relevance), rasa percaya diri siswa ditingkatkan dengan cara yang menyenangkan (confidence), dan kepuasan siswa terhadap hasil belajar mereka sendiri dimunculkan dengan memberikan feedback yang membangun (satisfaction). Tentu saja, “konsep lama” dimana yang tidak mencapai nilai tertentu akan tinggal kelas tidak boleh diberlakukan dalam model pembelajaran ini. Apalagi konsep “3D (Duduk, Diam, dan Dengar)” yang membuat membuat anak-anak seperti robot, tentu harus dibuang jauh-jauh. Sebaliknya, dalam model pembelajaran ARCS guru dan siswa sama-sama bekerja sama untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi siswa yang kurang percaya diri sehingga siswa tersebut betul-betul mampu dan merasa tidak ditinggalkan oleh kawan-kawannya.
Di dalam kurikulum 2013, jumlah Kompetensi Dasar untuk anak sekolah dasar dikurangi dan jam belajar di tambah. Perlu diketahui bahwa penambahan jam belajar disini bukanlah untuk menambah beban siswa dengan tugas, mendengarkan ceramah guru, dan mengisi lembar LKS. Tetapi tujuannya adalah untuk memberikan guru dan siswa keluasan waktu agar siswa bisa mengembangkan diri dengan cara bersosialisasi, mengamati, dan bekerjasama dengan kawan-kawannya. Tentunya konsep ARCS model bisa diterapkan dalam kurikulum ini agar pendidikan tidak terkesan kaku. Agar siswa tidak bosan, tariklah perhatian siswa dengan hal-hal yang sesuai dengan dunia mereka (attention). Misalnya, untuk belajar tentang berhitung, guru bisa memutarkan lagu tentang berhitung atau video animasi tentang menghitung jeruk di atas pohon atau menghitung jumlah ulat pemakan daun. Tentu saja anak-anak akan menyukai ini. Jangan pernah memaksa anak-anak untuk  berdiri di depan kelas kemudian menghafal perkalian atau pembagian, karena mereka tidak akan mengetahui manfaat dan tujuan pembelajaran itu secara langsung. Lebih parahnya, anak-anak akan terasa bosan karena harus terus menerus mendengarkan kawannya menghafal di depan kelas sambil menunggu giliran dirinya dipanggil untuk menghafal di depan kelas.
Pendidikan dengan model ARCS juga menyarankan agar pembelajaran menyuguhkan tujuan pembelajaran pada anak-anak secara langsung. Bukan dengan mendikte lalu menulis tujuan pembelajaran. Tetapi diharapkan agar siswa bisa merasakan atau menyentuh langsung hasil pembelajaran mereka (relevance). Tentunya, dalam hal ini guru harus mampu membuang jauh-jauh sifat diktator di kelas dan beralih menjadi teman bermain untuk anak-anak di kelas. Sebaliknya, guru mengajak anak-anak untuk merasakan secara langsung ilmu yang diperolehnya agar ia merasa bahwa belajar itu kebutuhan dan sesuatu yang menyenangkan! Sebagai contoh, guru mengajak anak-anak bermain tebak-tebakan tentang hewan, belajar menghitung dengan menghitung kelereng yang tumpah, belajar hukum Archimedes dengan cara menuangkan air ke dalam pipa-pipa kecil, mengenal nama hewan dengan cara mewarnai gambar-gambar hewan yang ada dan lain-lain. Bahkan, untuk pelajaran ilmu sosial anak-anak akan lebih suka diajak untuk study-tour langsung ke satuan polisi lalu lintas untuk belajar tentang rambu-rambu dari pada disuruh menghafal rambu-rambu yang ada di buku cetak. Dengan demikian, anak-anak merasa bahwa mereka “butuh” belajar di sekolah karena disana mereka bisa menemukan hal-hal baru yang mereka butuhkan untuk kehidupan mereka.
Selanjutnya, kepercayaan diri (confidence) siswa ditingkatkan dengan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menjadi yang terbaik. Ajak anak-anak yang nilainya di bawah rata-rata untuk berdiskusi dalam kelompok. Buat ia merasa bisa melakukan apa yang dilakukan oleh kawan-kawannya yang lain. Beri anak tersebut kesempatan untuk memperbaiki nilai-nilai yang kurang. Bahkan, jika perlu anak tersebut diberikan kesempatan untuk menjadi ketua kelompok dalam suatu kegiatan, sehingga ia akan merasa dipercayai.
Sebaliknya, memberikan hukuman kepada anak-anak yang kurang mampu dalam menerima pelajaran dan memperoleh nilai yang rendah merupakan hal yang paling fatal. Anak-anak merasa akan terpojok dan tertekan ketika ia dihukum karena kekurangannya. Guru yang baik semestinya mencari solusi bagi anak didiknya yang mempunyai masalah. Pendidik yang baik akan berusaha meningkatkan rasa percaya diri anak tersebut dengan pendekatan-pendekatan tertentu. Jangan pernah mengatakan kata-kata yang kurang menyenangkan seperti,”nilai kamu sangat jelek”, “kamu sangat bodoh”, dan lain-lain yang membuat anak merasa malu. Sebaliknya, guru harus memotivasi si anak dengan kata-kata penyemangat seperti,”kamu pasti bisa lebih baik dari ini, ayo semangat!”
Selnajutnya, aspek kepuasan dalam belajar (satisfaction) dalam diri siswa dimunculkan dengan memberikan hadiah, pujian, ataupun kejutan-kejutan yang membuat siswa bangga terhadap hasil belajar mereka. Sesekali, siapkan sertifikat untuk anak-anak yang berhasil mencapai peringkat tertentu untuk membuat anak-anak lain tertarik. Selain itu, biasakan untuk mengucapkan kata-kata yang menyenangkan seperti “Bagus sekali Rudi!”atau “Kerja bagus, Randa,” dan kata-kata lainnya. Namun, untuk anak-anak yang masih kurang pencapaiannya berikan pujian sekaligus umpan balik yang membangun seperti “Bagus Dini! Bacaannya sudah bagus, hanya perlu latihan sedikit agar lebih lancar.” Dengan demikian, anak-anak bisa merasakan bahwa usaha mereka dalam belajar dihargai dan memunculkan rasa puas siswa dengan pencapaian mereka.
Model pendidikan yang senada juga diterapkan di Negara Finlandia yang sekarang terkenal sebagai  Negara yang memilki sistem pendidikan terbaik di dunia. Negara yang dulu pernah menjadi salah satu negara termiskin di dunia ini, berhasil mengembangkan pola pendidikan yang menyenangkan untuk sekolah dasar dimana anak hanya belajar tiga sampai empat sehari dan sama sekali tidak boleh dibebankan dengan pekerjaan rumah. Selebihnya, anak dibebaskan bermain agar mampu bersosialisasi dengan orang lain dan mengetahui dunia lebih luas. Anak-anak yang kurang mampu akan dimotivasi dan diberi kesempatan untuk belajar dengan kawan-kawannya yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi sehingga ia akan terpacu untuk mengikuti kawan-kawannya dalam belajar. Guru juga tidak henti-hentinya mendampingi dan memberikan semangat agar siswa tersebut mampu sebagaimana teman-temannya yang lain. Dengan demikian, anak-anak akan merasa puas terhadap hasil belajar mereka karena mereka merasa diperlakukan secara adil dan tidak merasa terasing dari kawan-kawan mereka yang lain.
Perlu diingat bahwa pendidikan itu bukan semata-mata proses transfer ilmu, tapi sesuatu yang melibatkan cita dan rasa. Pendidikan sekolah dasar seyogyanya mencerminkan dunia anak-anak yang semestinya. Dalam artian, pembelajaran tingkat sekolah dasar harus dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang menyenangkan. Hal ini karena fitrah anak-anak adalah ingin bermain dan mencoba hal-hal baru. Buang jauh-jauh budaya “3D (Duduk, Diam, dan Dengar)” yang membuat anak-anak bersifat kaku seperti robot. Sebaliknya, ajak mereka bermain sambil belajar agar mereka bisa menikmati dunia mereka sebagai anak-anak. Inilah yang menjadi tugas pendidik yang sebenarnya. Tugas yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang mempunyai cita dan rasa. Sebaliknya, jika belajar hanya diartikan secara sempit sebagai proses transfer ilmu saja, maka computer yang punya koneksi internet “lebih banyak” dan “lebih lengkap” ilmunya  dari guru-guru yang ada di sekolah dasar. Hal ini diharapkan bisa menjadi suatu ilham mengapa anak-anak tetap membutuhkan manusia sebagai guru yang sesungguhnya.

Referensi:
-          Francom, G., & Reeves, C.T (2010). John M. Keller: A Significant Contributor to the Field of Educational Technology. Journal of Educational Technology May-June 2010.

-          John, M. Keller (1987). Development and the Use of The ARCS Model of Motivational Design. Journal of Instructional Development, Vol 10. No.3

-          Beritasatu.com. Ratusan Siswa Tidak Naik Kelas, Sistem Pendidikan Indonesia Tidak Konsisten, dipublikasikan pada 11 Oktober 2016 (Media Online)
                                                                 

Minggu, 27 April 2014

contoh puisi

Jumat, 25 April 2014

DUA HATI YANG JERNIH


     Mengajar membuatku semakin belajar bahwa kita perlu melihat sisi lain dari sebuah permasalahan. Belajar untuk bersikap adil, tenang dan juga belajar untuk menahan amarah. Biarpun kadang aku gagal!
Namun, belakangan ini beberapa hal membuatku semakin mencintai profesiku sebagai pengajar. Bukan karena aku semakin berani tampil sebagai guru ataupun semakin menguasai materi. Bukan sama sekali. Tetapi karena aku semakin sadar bahwa mengajar itu adalah caraku belajar menata diri. Mengajar adalah caraku belajar mengahadapi masalah di sekelilingku. Juga caraku belajar dari orang-orang sekelilingku, meskipun itu anak-anak kecil yang polos yang sering kujumpai belakangan ini.
Seperti beberapa hari yang lalu, kesabaranku diuji oleh pertengkaran dua bocah kelas lima es de. Sejak aku masuk keduanya tidak bisa diam, loncat kesana kemari. Sebungkus besar kue kriuk-kriuk plus sebotol besar minuman selalu mereka tenteng dalam kelas. Tas besar yang terletak di samping kursi mereka membuatku sadar bahwa keduanya adalah anak super sibuk. Tidak punya waktu untuk pulang ke rumah.  Begitu masuk, aku langsung melongo. “Bagaimana caraku mengajar jika muridnya tidak bisa duduk di tempat? Apakah aku harus mengajar sambil berlarian juga seperti mereka?”kata batinku.
“Miss, may I know your name?”
Tiba-tiba saja salah seorang bocah itu telah berdiri santai di depanku. Tangan kanannya masih asyik mengambil makanan kriuk-kriuk dalam bungkusan di tangan kirinya. Sementara mulutnya penuh oleh makanan. Aku menarik nafas. Sabar! Kusebutkan namaku.Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang duduk.
“Could you sit, dear? It’s impolait eating while standing,” pintaku.
Si anak itu duduk. Sedangkan anak satu lagi masih asyik buka-tutup pintu sambil ngunyah kriuk-kriuk. Kupinta ia duduk, Alhamdulillah mereka menurut. Kutanya nama mereka. Alhamdulillah keduanya sangat aktif. Bukan cuma nama, yang lain pun mereka ceritakan dengan full English. Cukup membuatku terkesan. Kutanya apa yang sudah mereka pelajari minggu kemarin. Keduanya langsung kasak-kusuk buka buku. Aku harap-harap cemas, bagaimana buku bacaan mereka? Dan…
Miss, we want to do homework here… Look! We have to underline repetition words and make some sentences just like the examples!” Kata Yudi. Aku melongo. Mereka mengeluarkan buku bahasa Indonesia.
Teacher ask us to find a text, Miss. ”jelasnya kemudian.
Aku bingung. Bagaimana mungkin mereka menemukan kata-kata ulang jika teksnya belum disiapkan? Akhirnya dengan kemampuan yang kupunya, kucoba membuat sebuah teks yang mengandung banyak kata-kata ulang. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk itu. Dan…
“Miss, how about me? Can you make it for me one?” tanya Rendi tiba-tiba.
“It’s for both of you,” jelasku. Aku memang tidak perlu membuat teks yang lain karena sudah jelas disebutkan bahwa teksnya boleh sama, yang penting kalimat yang mereka buat nantinya akan beda.
“No, Miss! I want this paper for me.” kata Rendi tegas. Ia menarik punya Yudi. Namun Yudi berhasil mengelak. Rendi hanya bisa menarik angin. Rendi nampak marah, sedangkan Yudi tertawa girang.
”It’s mine! Hueeek!” katanya sambil loncat-loncat dan menjulurkan lidah.
Pertengkaran dimulai! Kejar-kejaran dalam ruangan dimulai. Aku mulai panik. Kukerahkan segenap tenaga untuk menenangkan suasana. Tetapi nihil! Yang satu masih asyik ketawa-ketiwi, yang satu lagi sudah siap meneteskan air mata. 
"It for both of you, kids! You don't need to fight each other for that paper," kataku. kataku menguap begitu saja. 
“Come on kids! We have to do your homework now!” kataku setengah berteriak.
Tidak ada respon. Keduanya malah semakin gaduh berlarian dan berteriak. Aku terduduk karena kecapaian berteriak. Otakku berpikir keras. Bagaimana aku menjadi guru jika mengatasi dua anak hiperaktif ini saja aku tidak bisa. Aku hampir putus asa. But… Ahaaa! I’ve an idea. Aku ikut berlari bersama mereka. Dan gotcha! Rendi berhasil kutangkap. Itu artinya tidak ada lagi yang di kejar ataupun yang mengejar. Yang satu lagi pun berhenti. Aku sedikit lega.
“Kids, it’s impolite to ignore your teacher,” kataku.
“Is it a sin?” tanya Rendi polos.
“Yes! It is a sin.
“But I want that paper!” kata Rendi sambil menunjuk kertas di tanya yudi.
You both may use it. It’s not only for Yudi,” kujelaskan lagi.
Nooo, it’s mine! Hueek!”
Yudi malah kegirangan. Ia semakin suka menggoda Rendi. Sedangkan Rendi mulai mendung. Matanya mulai mengabur dan menjatuhkan titik-titik bening. Aku kebingungan. Yang satu becanda kelewatan, yang satu lagi sensitive luar biasa! Ooh, no! Rendi mulai duduk di sudut dan menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja. Di sana ia mulai terisak. Yudi terdiam. Ia tersadar bahwa ia salah. Aku duduk diam. Aku ingin melihat apa yang akan mereka lakukan.
“I’m kidding you…”

“No, I don’t care. You always like that! You promised me to not kidding me again. You break it!
Aku tetap diam. Yudi mendekat.
            “I’m sorry… It’s for you.” Yudi menyerahkan kertas di tangannya untuk Rendi.
            “ I will not forgive you, just leave me!”
            Aku seperti sedang menonton drama saja. But, it’s really real! Aku sadar, jika kudiamkan lebih lama lagi, kekacauan ini akan bertambah. Mereka harus belajar.
         “Kids, let’s me explain you something! Yudi and Rendi, please listen. You are friends. You have to care each other. You can’t reverence each other. Do you remember our prophet? He had been hurted by Quraisy for many years, more than twenty years, but he forgave them.”

                “Is it a sin, Miss?”

                “What?”

                “Having grudge?” Rendi tiba-tiba berhenti menangis.
                Yes!”Jawabku mantap.
                Kulihat keduanya hanya menatap satu sama lain. Yudi mendekati Rendi dan memberikan kertas yang tadi di tangannya.
                “It’s for you. I will search another one,” kata Yudi. Aku bisa melihat rasa ikhlas dari wajah tembemnya.
                “No, we can do it together.”

                “I will do it if you forgive me first.”

                “Yes, I’ll forgive you. I’m afraid of sin. Promise me you will not kid me again.”

                “Yes, I’ll, I’m afraid of sin, too”
            Aku menarik nafas lega. Ah, betapa mudahnya mereka menghilangkan dendam di hati mereka. Dalam semenit mereka bertengkar sampai menangis, hanya butuh butuh beberapa menit saja mereka untuk berbaikan. Mereka betul-betul takut dosa karena mendendam dan mengingkari janji. Ah, Yudi dan Rendi, kalian adalah pemilik dua hati yang jernih. Bagaimana denganku? Dalam sekejap, aku malu dan merasa naïf. Thanks a lot kids, you inspired me…
(foto: Google)




Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Junaidah Munawarah alumnus IAIN Ar-Raniry Aceh, Anggota Forum Lingkar Pena (FLP)Aceh dan penikmat tulisan apa saja.

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Blogger FLP

BTemplates.com

Blogroll