About

Senin, 21 April 2014

SELAMAT TINGGAL SERIBU SATU BAYANGAN

Lima tahun berada di Banda Aceh, aku telah melewati berbrbagai fase asam-asam manis. Dimulai dari jadi anak kos-kosan yang hanya mengenal kuliah-pustaka-kampus doang, ikut organisasi kampus untuk coba-coba, sampai menggeluti berbagai kegiatan organisasi di kampus dan di luar kampus yang kadang cukup memeras tenaga dan pikiran. Aku melewatinya tanpa menyadari adanya perubahan yang terjadi perlahan demi perlahan pada cara berpikirku. Aku tidak pernah tahu itu sebelumnya.

Setapak demi setapak langkah yang kuambil di sini sedikit banyak terrpengaruh dari orang-orang di sekelilingku. Ketika aku melihat orang yang sukses di bidang akademis, aku akan belajar mati-matian ingin menjadi orang tersebut. Di kemudian hari, saat aku menemukan orang yang sukses dalam dunia karir, aku kembali mencoba mengikuti jejaknya. Dan di kemudian hari, saat aku menemukan orang yang sukses di bidang kepenulisan, aku juga ingin sekali menjadi seperti mereka. Alhasil, langkah-langkahku terasa dibayang-bayangi oleh orang lain. Tidak jarang, aku mengikuti gaya dan cara mereka. Sering pula, aku mencoba melirik kegiatan-kegiatan yang sering mereka lakukan. Namun, aku kembali gagal.

Kini aku terpuruk, seolah-olah bayangan di cermin bukan lagi diriku sendiri, tetapi seribu satu bayangan orang lain yang pernah membuatku terinspirasi. Aku seperti kehilangan tujuan dan cita-cita yang pernah kutulis dalam sebuah catatan pribadi. Aku seakan lupa bahwa aku harus mandiri dan menginspirasi diriku sendiri.Dan kini aku tersadar ketika seribu satu inspiratorku membentuk lingkaran semu di sekitarku. Mereka menyodorkanku berbagai cara untuk mengikuti mereka. Telunjukku yang hanya dua, tidak mampu menunjuk mereka semua sekalian, melainkan menunjuk mereka satu persatu. Aku terhenyak dan tersadar, aku tidak bisa menggapai semua yang kuinginkan sekalian, tapi aku harus mewujudkannya satu persatu dengan usahaku.

Dalam dua hari ini, aku duduk merenung dan melakukan muhasabah terhadap cita-citaku yang sebenarnya. Aku kembali menelusuri lorong-lorong waktu yang lama tidak terjamah. Membangun puing-puing cita yang sempat terserak. Aku sadar bahwa aku tidak boleh menjadi orang lain. Terinspirasi boleh saja, namun cita-citaku  tetap tujuanku semata. Aku punya caraku sendiri untuk mewujudkannya. Mulai sekarang, waktu adalah milikku yang harus kujaga. Peluang adalah kesempatanku yang tidak boleh terlewat. Aku tidak  mau lagi 1001 bayangan mereka muncul di cerminku, sebab aku akan menggantinya dengan bayanganku sendiri. Selamat tinggal seribu satu bayangan... :)

waktu dan kesempatan tidak bisa kubeli
 

Jumat, 11 April 2014

MENUNTUT DAN DITUNTUT

Kita semua ingin keinginan. Ingin menjadi orang bahgia, menjadi yang paling baik, dan ingin dihargai. Kadang kita tidak jarang menginginkan orang di sekitar kita berubah menjadi apa yang kita inginkan. Contohnya saja, kita meminta orang di sekitar kita untuk diam ketika berbicara, sementara mereka tidak pernah kita berikan kesempatan berbicara. Kita juga sering menuntut mereka melakukan pekerjaan yang belum tentu kita sendiri menyukainya. Ya! itu sering terjadi, dalam sebuah keluarga sekalipun. Intinya, kita selalu menuntut sementara kita sendiri tidak mau dituntut. Jika demikian, adilkah kita?

Hasil dari sebuah tuntutan yang berlebihan adalah sebuah keretakan rasa, baik ukurannya kecil ataupun besar.  Orang di sekitar kita tidak lagi merasa nyaman berada di dekat kita  dan mulai menjaga jarak. Mereka merasa bahwa mereka hanya menjadi seonggok daging yang selalu kita manfaat tetapi tidak mendapatkan manfaat apa-apa dari kita.  Seorang teman akan menjauh jika selalu dituntut, seorang anak tidak akan akrab dengan orang tuanya jika orang tua menuntutnya melakukan apa yang tidak ia sukai, orang tua akan kesusahan jika dituntut untuk memberikan apa yang tidak mereka sanggupi, begitu juga seorang suami, ia akan terbeban jika harus memenuhi semua yang diinginkan istrinya. Padahal, jika posisinya dibalik, yang dituntut menjadi yang menuntut, belum tentu mereka sanggup memberikan apa yang diharapkan orang lain kepadanya. Menuntut memang mudah, tapi dituntut sering berujung pada kesusahan. Oleh karena itu, ayo kita menghindar dari sikap menuntut yang berlebihan terhadap orang-orang di sekitar  kita.  Dengan demikian, semua orang akan merasa nyaman berada di dekat kita. Jika tidak siap dituntut, janagn pernah menuntut orang lain. :)

sikap yang salah dalam meminta sesuatu

AKU CEMBURU

Semua orang pernah jatuh bangun dalam mengarungi bahtera kehidupan. Ada yang pernah bahagia sampai ingin meloncat ke langit, ada yang pernah sedih sekali sampai merasa ingin dibenamkan ke dasar bumi. Itulah kehidupan. 

Namun, di antara semua pernak-pernik hidup yang berwarna warni, ada hal-hal yang menarik perhatianku belakangan ini. Aku tertarik pada jalan hidup orang-orang di sekitarku. Ada begitu banyak sosok-sosok inspiratif yang selalu semangat dan tidak pernah mengeluh. Hidup ini mereka jalani dengan santai. Jika bahagia tidak pernah sampai meloncat-loncat sepertiku, dan jika sedih juga tidak histeris dan merasa paling menderita di dunia ini.

Pernah suatu hari, aku berkeluh kesah pada seorang kakak yang begitu mendamaikan. Aku berkeluh kesah tentang keadaanku yang sering kuanggap kurang beruntung. Seperti biasanya, ia menjawabnya dengan tenang. Menyemangati dengan kata-kata positif yang mendamaikan. Lalu, aku akan damai. Belakangan aku baru tahu bahwa beliau mempunyai masalah keluarga yang jauuh lebih berat dan beliau tanggung sendiri. Tidak pernah kudengar beliau berkeluh kesah tentang yang sangat rumit itu. Aku tidak pernah tahu itu. 

Di lain hari, aku menemukan begitu banyak sosok-sosok berhati pahlawan di sekitarku. Mereka selalu memberi dan jarang sekali menerima. Mereka juga tenang-tenang saja ketika orang-orang di sekitar mereka mempersoalkan materi yang mereka dapat. "Rejeki sudah Tuhan yang atur. Kenapa kita harus meragukanNya?" itu jawaban mereka. Santai tetapi tidak asal-asalan

Aku cemburu. Mereka adalah sosok-sosok yang tangguh dan kukuh. Mereka  layaknya mutiara yang terbenam dan tersimpan. Hanya orang-orang special yang diperuntukkan bagi mereka. Maka, tidak heran Allah menspesialkan mereka dengan berbagai cara-Nya. 

Ah, sangat banyak yang aku lewatkan selama ini. Semakin hari  aku semakin cemburu, dan semakin aku ingin belajar dari mereka. Terimakasih telah menginspirasiku selama  ini. Always stand by me, so that i'll learn the wisdom more and more...
support each other






Senin, 17 Maret 2014

DESKRIPSI RASA

Semua orang pernah berkeluh kesah, menceritakan suka dan dukanya kepada orang lain. Ini pula hal yang pernah saya lakukan. Mengeluhkan pening dan tidaknya rasa sakit kepada orang-orang sekitar ketika saya sakit kemarin. Jangankan melakukan aktifitas lain, bangun dari tempat tidur untuk shalat saja kepala saya langsung merasa diputar dan ditimpa martil berat. Belum lagi ketika mendengar suara kendaraan yang lewat di sekitar rumah, kepala terasa digergaji dengan besi api dari dalam. Tapi tetap saja, keluh kesah tidak membuahkan apa-apa bukan? Semakin saya mengeluh, semakin saya kecapaian.Helaan nafas pun berat sekali rasanya. 

Rasa capai akan lebih terasa ketika orang-orang di sekeliling saya bertanya,"Bagian mana yang sakit? Bagaimana sakitnya?" Saya bingung mendeskripsikan rasa sakit itu dengan kata-kata. Karena tetap saja, yang merasakan sakitnya adalah saya. Berkali-kali saya mendeskripsikan bahwa lantai terasa berjalan bagi saya. Benda-benda dan huruf apapun seperti melayang. Kepala layaknya ditikam. Ah! Susah sekali! Ujung-ujungnya orang di sekitar saya mengangguk prihatin dan mengatakan,"Cepat sembuh ya..."Saya sendiri sendiri tidak bisa mendiskripsikan lebih panjang bagaimana rasa sakit itu. Susah mendeskripsikannya dengan kata-kata.Saya hanya bergumam dalam hati,"Seandainya sakit itu bisa dilihat, mungkin tidak akan susah mendeskripsikannya."

sick!
Disinilah saya sadar sebuah misteri yang tidak bisa dipecahkan. Misteri cara pendeskripsian rasa dengan kata-kata. Bukan cuma rasa sakit, tetapi semua perasaan. Baik senang, susah, sedih, sakit, gembira, dan sebagainya. Mudah-mudahan suatu saat saya tahu caranya.... :)

HARGAI NYAWA ORANG LAIN

Pernah kamu melihat orang mengangkat telepon ataupun smsan sambil mengendarai kendaraan? Pernah melihat orang menerobos lampu merah? Atau, pernah jadi korban tabrakan gara-gara smsan atau telponan sambil berkendara? Atau, jangan-jangan kita sendiri termasuk si pelaku ini?  

Sering sekali saya menggerutu dalam hati ketika hal-hal tersebut terjadi di depan saya. Bagaimana tidak? berkali-kali saya hampir jadi korban akibat rasa tidak peka ini. Pernah seorang bapak berbaju dinas yang asyik smsan sampai tidak sadar motornya menghalangi jalan saya. Pernah juga ibu-ibu yang membawa balita di belakangnya sedang mengetik sms dan hampr menabrak pengendara di depannya. Saya yakin, mereka bukan orang-orang yang awam etika atau pun tidak tahu menahu tentang peraturan di tempat umum. Justru bisa jadi mereka adalah barisan "orang sibuk" di dinas-dinas, kampus, dan sekolah-sekolah. Namun, ayo kita berkhusnuzan saja bahwa mereka sedang lupa terhadap berbagai peraturan yang diciptakan untuk kemaslahatan bersama. Atau mungkin mereka adalah orang yang merasa "sok sibuk" sampai-sampai tega membahayakan nyawa orang lain demi kepentingan yang beberapa detik. Padahal, tidak ada ruginya berhenti untuk beberapa detik untuk mengangkat telpon ataupun membalas sms. Minimal, kita telah berusaha untuk menyelamatkan diri kita dan orang lain dari kecelakaan.

Selama kita smsan atau telponan sambil berkendaraan, tanpa sadar kita sedang menempatkan orang-orang di sekitar kita dalam bahaya. Ketika kita menelpon, banyak orang-orang di sekitar kita yang sedang melintas. Kita tidak bisa menjamin bahwa kita akan selamanya selamat ataupun beruntung karena tidak menabrak ataupun ditabrak orang lain. Kita juga tidak bisa menjamin bahwa kecelakaan yang terjadi hanya berupa kecelakaan kecil bukan? Bagaimana jika yang jadi korban adalah seorang balita tidak berdosa yang dibonceng ibunya yang sama sekali tidak tahu cara mengungkapkan sakit dengan kata-kata? Bagaimana pula jika yang menjadi korban adalah seorang ayah yang merupakan tulang punggung sebuah keluarga ataupun seorang ibu yang menjadi pencurah kasih sayang untuk anak-anaknya? Jangan sampai kita menjadi penyebab dari penderitaan berantai bagi orang lain.
bahaya menelpon ketika berkendara


Siapapun kita, mulai dari tukang becak sampai pegawai pemerintahan, semuanya menginginkan kenyamanan dalam menggunakan fasilitas umum. Semua ingin pergi dan pulang dengan selamat dan berkumpul dengan keluarga tercinta. Siapapun kita, hargailah nyawa orang lain. Please no texting and dialing while driving...

bahaya smsan ketika berkendara


Rabu, 26 Februari 2014

SEBUAH REFLEKSI CINTA ANGKA 23



          
            “Happy birthday ya!” tiba dua kepala menyembul dari balik pintu. Mereka Desi dan Novi, kakak beradik yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri di kontrakan kami. Meski dengan mata agak merem karena baru saja tidur aku tertawa sambil mengucapkan terimakasih. Saat mereka menutup pintu, kubuka jam di hp; 12.05. Akhirnya Aku sudah dua puluh tiga tahun, hatiku berkata datar. Lalu kembali menenggelamkan diri di balik selimut. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku ingin berfantasi dengan kenangan demi kenangan selama setahun.
            Aku memulai angka 22 kemarin di rumah sakit Fakinah. Bukan aku yang sakit, tapi ummi. Jam 00.00 aku masuk rumah sakit dengan sesak di dada yang kutahan. Diam, itulah satu-satunya caraku agar tangisku tidak membuncah. Berkali-kali kubisikkan dalam hatiku, “Ini ujian! Allah sedang menggugurkan dosa kami dengan ujian ini,” itu bisikku pada diriku sendiri. Saat itu aku sendiri. Semua keluargaku yang lain memang sedang tidak bersamaku saat itu. Aku dan ummi sudah beberapa hari di rumah sepupuku untuk memudahkan ummi mengontrol ke dokter spesialis. Aku hanya dengan ummi, berdua saja. Singkat kata, aku duduk di kursi memegang tangan ummi yang terpasang jarum infus dengan tatapan nanar. Ummi diam, beliau lemah dan mata beliau terpejam. Aku tahu betul ummi saat itu sedang menahan pening karena dunia di sekitarnya seolah berputar, sesuatu yang sangat ditakuti oleh pengidap vertigo.
Saat itu, hanya aku yang bicara. Bicara dengan pikiranku sendiri. Mengucapkan sepatah kata ulang tahun untuk kurayakan sendiri. Dalam diam yang kupaksakan. Karena tenggorokanku tercekat oleh amukan. Sebuah sms mengejutkanku. Ucapan ulang tahun dari seorang kawan dekatku. Ces! Satu titik bening itu jatuh. Tidak ada suara. Tetap dalam diam. Hanya tanganku yang semakin erat memegang tangan ummi, mencari sedikit kekuatan. Dalam ruang sempit itu, hanya kami saja, aku dan ummi. Saat itu, aku tidak menginginkan sebongkah kue tar yang dihisi lilin. Tidak! Aku hanya ingin segera keluar dari ruang sepi itu bersama kesembuhan ummi. Itu saja!
Subuhnya abu sampai dari Sigli, diikuti oleh saudara dan family yang datang silih berganti. Kedatangan mereka cukup untuk menbungkam sunyi dan takut yang mendekapku semalam. Amukan semalam tidak pernah buncah. Ia perpendam sudah. Ia berganti dengan segenap haru saat berkumpul dengan saudara. Membuatku mengenal arti syukur karena ternyata di dunia aku tidak sendiri.
            Namun, musibah tidak membuatku selamanya terpuruk. Ada berbagai hal yang mulai kucoba tata sendiri. Aku mulai mencoba menyelesaikan semua permasalahanku sendiri. Jika dulu aku sering mengadu dan merengek kepada orang tuaku saat punya masalah, kini aku lebih memilih mencari solusinya dengan usahaku sendiri. Sering aku menelpon untuk mengabarkan berita bahagia seperti sripsiku yang hamper usai, KPM yang lancar dan kegiatan-kegiatan yang kulakukan bersama kawan-kawan, sidang skripsi dan yudisium. Berkali-kali aku meminta doa ketika aku merasakan ketakutan dan keraguan. Apalagi ketika menjelang sidang, berkali-kali aku menelpon meminta doa dari ummi dan abu. Biasanya, aku sedikit tenang setelah itu.
            Setengah bebanku terasa lepas saat aku yudisium. Dalam audit, berkali-kali air mataku jatuh. Wajah-wajah orang yang selalu mendukungku muncul satu persatu. Ummi, Abu, kak Meza, Abangku (Safrizal), Dek Fina, Dek Sulaiha dan Jamara (adikku), orang yang terdekat denganku dan  sahabat-sahabatku yang tidak bisa kusebut satu persatu. Kusms abu dan ummi, kubilang bahwa aku teringat mereka dan terimakasih pada mereka. Tanpa doa mereka mungkin aku bukan siapa-siapa. Ummiku menelpon dan kami berbicara beberapa saat untuk melepas rindu.
            Bulan-bulan selanjutnya aku lalui dengan jalan-jalan ke Bali, mengenal orang-orang hebat di FLP, dan Wisuda. Yang paling berkesan itu saat wisuda. Hari sebelum itu aku sering menetes membayangkan aku tidak akan bisa merayakan wisudaku dengan ummi. Ya, ummiku saat itu belum betul-betul sembuh. Terakhir ummi bilang “bek weuh hate” mungkin ummi tidak bisa datang nanti. Aku jawab “get”meski hatiku mengatakan “Aku ingin ummi datang.” Kukuatkan hatiku mempersiapkan hari wisudaku sendiri. Kucoba tegarkan jiwaku saat kudengar sahabat dan kawan-kawanku akan merayakan wisuda mereka dengan keluarga terdekat. Aku menanggapi semuanya dengan tersenyum dan diam.
            Pagi wisuda, aku berangkat dari rumah kak Meza di Darussalam. Diantar adikku, aku berkumpul dengan kawan-kawan di lapangan Tugu. Aneka warna kebaya dan gaun berpadu padan disana. Yang laki-laki berjas rapi, yang perempuan bergaun dan ber-make up cantik. Kuhibur diri dengan foto-foto dan bercanda. Sampai akhirnya aku ikut pawai arak-arakan  berjalan kaki kearah kampus bersama yang lain. Di tengah jalan tiba-tiba handphoneku bergetar, ummi menelponku.
            “Tolong lihat sebelah kanan, ummi disini. Sekarang cepat ambil cincin sama Dek Fina ya!” kata ummi di seberang. Aku mengalihkan pandanganku ke sebelah kanan. Kulihat ummi sedang melambaikan tangan. Sedangkan Dek Fina berlari ke arahku memberikan cincin padaku. Aku tersenyum dan trenyuh. Ah ummiku… bagaimana aku akan ingat soal cincin dan lain-lain jika Ummi dan Abu tidak hadir? Alhamdulillah, acara wisudaku berjalan mulus. Begitu siap, aku langsung keluar mancari ummi di antara lautan manusia. Kutelpon ummi. Kata ummi, beliau di tenda sebelah kiri. Aku langsung berlari ke sana. Kusalam dan kupeluk ummi dan adik-adikku dengan tangis. Tidak kuhiraukan make-upku yang bisa saja luntur. Disana kami hanya berpelukan dala tangis. Bahagiaku tidak bisa kuutarakan. Biarpun setelah itu kami hanya berfoto-foto ria di bawah pohon tanpa ke studio seperti yang lain, aku bahagia sekali. Semua terasa lengkap dengan kehadiran ummi dan abu, biarpun Sulaiha adikku dan Abangku Safrizal tidak bisa datang karena harus jaga rumah sekolah di Sigli.  Ya, biarpun kami hanya makan-makan di rumah kak Meza dan setelah dhuhur Ummi dan Abu plus adik kecilku Jamara harus pulang kembali ke Sigli.
            Setelah wisuda, kegiatanku bukan semakin berkurang. Malah semakin bertambah. Mengajar di beberapa tempat, posisi sebagai sekretaris FLP Wilayah Aceh membuatku belajar banyak hal. Ditambah lagi, aku menyempatkan diri untuk bersahabat dengan salah seorang kawan di luar negeri via skype dan semakin tahu bagaimana kehidupan orang-orang di luar negeriku. Aku harus banyak bersabar di lingkungan baru, dimana tidak semua orang bisa memahamiku seperti keluargaku memahamiku. Aku juga harus belajar kebijaksanaan dari orang-orang yang selalu menginspirasiku. Aku tidak selamanya benar dan kuat. Tidak. Aku pernah terbawa emosi sampai salah bicara dan menyakiti banyak orang. Aku juga sering terjatuh dan berusaha unutk bangkit berkali-kali. Yah, ini namanya hidup kan? Tugasku, adalah memperbaiki diri.
            Mengenai target, terlalu banyak yang  baik yang ingin kulakukan ke depan. Sebuah cita-cita besar untuk membahagiakan orang tua dan keluargaku, sebuah doa yang tidak putus untuk kesembuhan ummiku, serta ratusan target harian yang ingin kulakukan dengan baik. Aku ingin membenahi diri menjadi jiwa yang lebih baik. Mudah-mudahan. Amin.
Bertambah usia, berarti berkurang sisa umur dan berkurang kesempatan. Namun, bukan berarti aku harus menyerah bukan? Ada begitu banyak cinta di sekitarku yang ingin kugapai. Ada begitu banyak pula cinta yang masih ingin kutaburkan. Terimakasih untuk ummi dan abu, keluarga, sahabat, dan kawan-kawan semuanya untuk cinta dan doa kalian selama ini. Always love me as I wanna love you forever… :)

Kita tidak perlu kue tar atau pun lilin itu, sayang...
Kita hanya perlu segenggam semangat yang tidak pernah redup.
Bukan nyanyian ultah itu yang kita lantunkan,
namun, lantunan doa agar kita tetap berada dalam ridha dan lindunganNya...
Agar tangan kita tetap berangkulan, dan saling mengusap air mata saat kita tertatih...
Hanya itu saja.
 
 *special thanks  untuk isni wardaton atas catatan cintanya untukku pagi ini.





 
           


           

Jumat, 27 Desember 2013

TSUNAMI MENELAN TEMAN BARUKU


            Pertama, aku bingung apa yang ingin aku tuliskan tentang tsunami. Yang kutahu aku sama seperti kawan-kawan di Aceh yang lain, kehilangan saudara ataupun sahabat karibnya. Namun, ada kisah unik yang ingin kubagi dengan kawan-kawan sekalian. Ini tentang seorang gadis pemberani yang baru kukenal dan lenyap begitu saja ketika tsunami. Aku mengenal gadis itu hari raya idul fitri, tepat bebrapa minggu sebelum tsunami.
            Lebaran idul fitri itu, aku merasa ada hal yang terjadi di luar kebiasaan, yaitu berjumpa dengan family yang lama sudah tidak kami datangi karena konflik yang berkepanjangan. Lebaran idul fitri itu, kami sekeluarga bertekad mengunjungi seorang misyik dan keluarganya di daerah rawa. Aku tidak pernah tahu siapa nama misyik itu, namun karena ia tinggal di daerah rawa, dekat Kota Sigli, kami biasa memanggilnya misyik rawa.
            Singkat kata, berbekalkan doa dan mobil yang bak terbuka yang sering mogok, kami pergi ke sana. Begitu sampai, aku bisa melihat bagaimana harunya pertemuan itu. Tangis terisak pelepas rasa rindu serta pelukan hangat dan erat menjadi penyambut Abu dan anak-anaknya. Misyik Rawa yang rambutnya sudah putih semua sampai berkali-kali mengusap air mata. Beliau sempat bilang bahwa beliau sedih sekali sudah lama tidak kami kunjungi. Pertemuan itu terus berlanjut dengan bercerita tentang keluarga, konflik, sampai musim sawah di kampung. Entahlah, aku tidak seberapa ingat, karena ketika itu pikiranku hanya satu, ingin ke pantai dan memungut keong di sana. Berkali-kali tanganku mencoba menarik sisi belakang baju ummi dan berbisik mengajak ke laut. Namun, ummiku hanya menoleh sekali sambil menggeleng-geleng kepala sebagai bahasa isyarat “tidak boleh”.. Kuulangi lagi sampai bebrapa kali, namun rekasi ummi tetap saja sama. Akhirnya aku bosan sendiri dan hanya melalikan diri dengan turun dari rumah panggung itu dan mengutip beberapa keong lusuh di atas pasir dekat tangga.  Aku bisa melihat pantai melalui pohon-pohon rawa yang berduri. Namun, langkahku tidak berani mendekat kesana. Aku hanya duduk di atas bangku sambil mendengarkan suara ombak yang menggodaku untuk menapakkan kaki di pasir panatai. Namun, aku masih tidak berani. Sampai akhirnya seorang gadis datang nampak berjalan dari arah pantai dan masuk ke dalam rumah. Ia mengenakan jins dan kaos oblong pendek, Dari perawakannya aku mengambil kesimpulan ia adalah gadis yang tomboy dan pemberani. Sspertinya ia lebih tua dariku.
            “Nong, ajaklah si adek itu mencari keong!” kata Cek Nah, anak abusyikku tiba-tiba. Dalam hati aku langsung  bersorak riang. Apalagi saat si gadis itu langsung tersenyum dan mengiyakan. Aku langsung memakai sandal dan berlari ke pantai. Sedangkan ia menatapku tertawa dan mengikutiku.
            “Siang di pantai panas,”katanya singkat.
            “Tidak apa-apa, kami sudah lama tidak ke pantai,”kataku jujur.
            “Kenapa?”
            “Takut, Kak. Konfliknya parah daerah kami,” kataku. Kuceritakan bagaimana bom meledak di jalan dekat rumahku. Mayat yang diseret di samping rumah. Isi otak manusia yang terburai di kebun dekat pemakaman di kampungku.
            “Abangku juga mati karena ditembak. Dia mati di gunung itu,” tunjuknya ke sebuah gunung dekat pantai sebelah barat. “Mayatnya dikebumikan di sana. Kami tidak bisa melihatnya,” ceritanya.
            “Lalu bagaimana kakak tahu?”
            “Mayat abangku difoto. Nanti aku akan menampakkan fotonya padamu” katanya tanpa beban dan singkat. Meskipun aku mesih kecil, namun aku bisa berkesimpulan bahwa ia sudah terbiasa dengan kehidupan konflik yang keras. Saat itu kami terus berjalan melewati pandan berduri khas rawa-rawa.  Di antara pandan yang melebihi tingginya orang dewasa, rumah-rumah keci dari kayu berdiri.
            “Itu rumah kakakku,” katanya lagi menunjukka
            “Orang tua kakak?”
            “Sudah meninggal. Rumah tempat kami tinggal sekarang rumah orang tuaku”, jawabnya sambil senyum. Aku hanya ber-o panjang.
            “Kakak kelas berapa?”
            “Aku tidak sekolah lagi. Aku keluar dari SD karena takut disuntik. Setelah itu konflik seakin parah. Kami mengungsi, dan aku benar-benar tidak sekolah lagi.” Katanya santai. Aku hanya menggeleng-geleng kepala.
            Hari itu aku benar-benar puas berjalan di panati sambil memungut bebarapa keong. Kami berteduh ke pinggir pantai saat matahari benar-benar pas dia tas kepala.
            “Aku pulang sebentar, ya? Tunggu disini,” katanya sambil berlari pulang tiba-tiba. Aku menatapnya heran, namun mengangguk mengiyakan. Sesaat ia kembali dengan beberapa lembaran foto di tangannya.
            “Ini abangku,” tangannya menunjuk gambar seorang pemuda berpakaian loreng dan memegang senjata laras panjang.   “Ini mayat abangku setelah ditembak,” tangannya menunjuk sebuah foto yang lain. Aku begidik ngeri. Aku bisa melihat sesosok mayat berlumuran darah. Wajah mayat itu memar dan penuh sabetan. Gadis itu tertawa. Ia melanjutkan ceritanya bahwa ia ingin berjuang seprti abangnya. Entahlah, aku tidak paham dengan jalan pikirannya. Sangat berbeda denganku yang takut dengan suara tembakan. Mendengar orang bertengkar saja lututku langsung lemas.
            “Dek Dah! Ayo kita pulang!” suara ummiku terdengar dari jauh, Kulihat ummi memanggil-manggilku di depan rumah abusyik.
            “Kak, aku pulang dulu, ya” kataku kemudian.
            “Kapan kau akan kesini lagi?” tanyanya kemudian. Kami berdua lama perpandangan resah.
            “Mungkin lebaran idul adha nanti, kalau Ummi dan Abu memang pergi,”kataku. Iya mengangguk.
            “Mau ikut kami, Kak?” tanyaku basa-basi.
            “Nanti ya, waktu Cek Nah ke rumah kalian,” katanya tertawa.
            Ia ikut mengantarku ke mobil. Lama aku menatapnya. Sesaat terasa bahwa ia sangat akrab dan berkesan bagiku. Ia mempunyai jalan hidup yang unik dan keras. Namun, ia juga gadis yang sangat polos. Aku pun meninggalkannya yang berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan.
            Beberapa minggu kemudian, tsunami terjadi.  Kudengar kabar bahwa semua keluargaku di Rawa hilang dalam gelombang. Kutanya pada ummi tentang gadis itu. Ummi bilang ia dan keluarganya juga lenyap tak berjejak. Dalam sekejap pikiranku terbayang bagaimana Rawa dan sekitarnya dilahap air bah. Aku bayangkan bagaimana ia berjuang dalam gelombang maut itu. Meski baru pertama bertemu, namun aku merasa kehilangan sekali. Aku tersadar bahwa lambaian tangannya adalah yang pertama dan terakhir untukku. Entah dimana jasadnya bersemayam, tidak ada yang tahu. Namun, tidak peduli dimanapun ia, semoga Allah ampuni dosa-dosanya dan lapangkan kuburnya. Ia kawan baruku…
 
Orang-orang berlarian menyelamatkan diri.
           
           
Air bah menerjang daratan.

setelah tsunami

             
           
           

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Junaidah Munawarah alumnus IAIN Ar-Raniry Aceh, Anggota Forum Lingkar Pena (FLP)Aceh dan penikmat tulisan apa saja.

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Blogger FLP

BTemplates.com

Blogroll